Saturday, January 9, 2016

KISAH IMAM AHMAD BIN HANBAL

Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahullah telah ditanya muridnya Abu Hamid al-Khulqani tentang pendapat beliau terhadap syair-syair yang berkaitan syurga dan neraka.
Lalu beliau bertanya,”Seperti apa? Contohnya?” Lalu Abu Hamid al-Khulqani mendendangkan syair ini.

Usai dua kalimat pertama Imam Ahmad terus menangis teresak-esak dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Tangisan beliau begitu kuat sambil mengulang-ulang dua rangkap pertama itu.

Muridnya meriwayatkan: Kami mendengar tangisan Imam seolah-olah beliau akan mati.

Apabila tiba saat Tuhanku berkata padaku:
Tidakkah engkau malu melakukan maksiat kepadaku?
Engkau menyembunyikan dosa dari makhlukku sedang dengan dosa engkau datang berjumpaku?

Maka bagaimanakah aku boleh menjawabnya & siapalah yang boleh mempertahanku?

Aku senantiasa mendamaikan perasaanku dengan harapan-harapan dari detik ke detik Sedangkan aku lupa apa yang berlaku selepas kematian, apalah yang cukup untukku.
Seolah-olahnya aku telah dapat menjamin akan terus hidup dan kematian tidak akan datang.

Jika tibalah saat sakit kematian siapalah yang boleh menahannya dariku? Aku hanya mampu melihat wajah-wajah di depanku adakah seseorang di kalangan mereka yang boleh menebusku?

Aku bakal ditanya apalah yang telah aku persembahkah di duniaku dahulu yang boleh menyelamatkan daku

Bagaimanalah jawabanku setelah aku mengabaikan urusan agamaku?

Oh! Kesalnya, apakah aku tidak pernah mendengar kalam Alloh yang menyeruku?

Apakah aku tidak pernah mendengar kandungan surah Qaf dan surah Ya Sin

Apakah aku tidak pernah mendengar tentang hari perhimpunan, perkumpulan dan pembalasan.

Tidak pernahkah aku mendengar penyeru kematian yang mengajakku dan memanggilku?

Wahai Tuhanku, inilah seorang hamba yang kembali, siapalah yang sanggup menerimanya?

Kecuali Tuhan yang maha pengampun, yang maha kaya, yang senantiasa memberiku pedoman ke jalan kebenaran.

Aku mendatangiMu maka kasihanilah daku &  beratkanlah neraca timbanganku

Ringankalah pembalasanku kerana Engkau sahajalah paling diharap kebaikannya, apabila melakukan pembalasan.

Dinukil dari Kitab Manaqib Imam Ahmad hal. 205 oleh Ibnu Jauzy.

Robbana Taqobbal Minna.
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin

SHARE.... SYUKRAN ☺

Monday, July 20, 2015

MANDI

Pengertian Mandi
Mandi menurut bahasa yaitu mengalirnya air secara mutlak, baik di anggota badan atau lainnya. Sedangkan menurut istilah Syara' ialah mengalirkan air ke seluruh tubuh dengan syarat-syarat tertentu dan disertai niat. Hal ini berdasarkan atas firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 6:
"...dan jika kamu junub maka mandilah" (Q.S Al-Maidah ayat 6)
Dalam islam, ada hal-hal yang menyebabkan kita melaksanakan mandi wajib, yaitu:
1. Ejakulasi (keluar sperma) dengan cara apapun.
Adapun kalau mani ini keluar ta pa syahwat, karena sakit,  kedinginan atau lain sebab maka mandipun tidak wajib, demikian ijma' para fuqaha. Jika bermimpi jima' (bersetubuh) tetapi tidak sampai mengeluarkan mani maka tidak wajib mandi.tetapi jika bangun tidur sehabis mimpi tersebut kemudian maninya keluar maka mandipun wajib dilakukan
2. Bertemunya dua khitan yakni bila kepala kemaluan laku laki masuk ke dalam farji perempuan meskipn tidak sampai mengeluarkan mani maka wajib mandi. Diantara para ulam .bersepakat bila laki laki telah meletakkan kemaluanya laki laki pada kemaluan perempuan tapi belum dimasukkan maka masing masing belum wajib mandi
3. Terhentinya darah nifas dan haid
4Mati, kecuali mati syahid dunia akhirat. Hal ini menurut pendapat Imam Syafi'i.
6. Baru masuk islam. Hal ini merupakan salah satu hal yang mewajibkan mandi menurut Madzhab Maliki, Syafi'i dan Hanbali.
Adapun mengenai Rukun-rukun mandi ialah sebagai berikut:
1. NIAT
Para imam madzab sepakat bahwa niat merupakan rukun mandi. Kecuali Imam Hanafi yang menolak niat sebagai salah satu rukun mandi. Alasannya ialah beliau tidak menganggap niat sebagai syarat sahnya mandi.
2. Meratakan air ke seluruh badan.
Para Imam madzhab empat sepakat tentang hal ini, dan tidak ada aturan khusus dalam aplikasinya.
Dalam hal ini Imam Hanafi menambahkan agar berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu dihembuskan kembali terlebih dahulu.
Sunnah-sunnah Mandi:
Menurut Imam Hanafi: Sunnah memulai dengan menyiramkan air dari kepala, anggota badan sebelah kanan, kemudian anggota badan sebelah kiri.
Menurut Imam Syafi'i dan Imam Maliki: Sunnah memulai siraman dari bagian atas tubuh selain farji (kemaluan). Untuk farji disunahkan agar membersihkannya lebih dahulu daripada semua anggota badan yang lain.
Menurut Imam Hanbali: Disunahkan mendahulukan anggota badan yang kanan.
SUMBER:  FIQIH WANITA KH SYAFI'I ABDULLAH

Sunday, July 19, 2015

DARAH NIFAS BAGI PEREMPUAN

NIFAS
Pada umumnya setelah melahirkan, wanit masih mengeluarkan darah.  Darah yang keluar sehabis melahirkan, sekalipun hanya berupa anak guguran asal sudah nyata sebagian bentuknya , itu disebut darah nifas.
LAMANYA DARAH NIFAS
masa nifas paling lama adalah 40 hari. Tidak ada ketentuan berapalamakah masa nifas yang paling singkat. Karena untuk mengetahui nifas memang tidak ada tanda lain selain melahirkan seorang anak.
Sebagian ulama menerangkan masa nifas ini.  Menurut madzhab Syafi'i masa nifas yang paling lama ialah 60 hari. Sedang 40 hari ialah umunya yang di alami oleh kaum wanita. Begitu juga madzhab Maliki berpendapat bahwa paling lama masa nifas yang terpanjang adalah 60 hari.
BERAPA LAMAKAH MASA NIFAS BILA MELAHIRKAN ANAK KEMBAR?
bila seorang ibu yang melahirkan anak kembar,  maka nifasnya dihitung sejak kelahiran anak pertama bukan dari anak kedua. Artinya sekalipun anak pertama dan kedua ada perbedaan waktu beberapa saat, maka masa nifas itu tetap,dihitung dari anak pertama, walaupun perbedaan waktunya itu mencapai sepanjang masa nifas yang paling lama.
Jadi andaikata seorang ibu melahirkan anak, dan setelah empat puluh hari melahirkan anak yang kedua,  maka darah yang keluar sesudah melahirkan anak yang kedua ini adalah darah penyakit yang tidak dianggap darah nifas. Pendapat Ulama yang bermadzhab Syafi'i bila seorang ibu melahirkan anak kembar, maka nifasnya dihitung dari kelahiran anak yang kedua.sedangkan darah yang keluar sehabis anak yang pertama tidak dianggap sebagai darah nifas. Tetapi darah haid bila bertepatan dengan saat datangnya haid seperti tiap bulan. Sedangkan kalau tidak demikian maka dianggap darah penyakit.
Umumnya di indonesia menggunakan pendapat Imam Syafi'i.
TERHENTINYA DARAH SELAMA MASA NIFAS
Kadang beberapa wanita mengalami nifas yang tidak lancar. Misalnya sehari keluar sehari tidak.menurut umala bermadzhab Syafi'i bahwa terhentinya darah yang keluar tidak teratur selama masa nifas,  maka itu terhitung darah nifas. Sekalipun itu terhentinya sampai 15 hari.tetapi kalau sudah melahirkan namun darah nifas tidak keluar dan ditunggu  selama 15 hari tidak keluar juga, maka hari hari itu semua dianggap suci. Dengan demikian seluruh kewajiban yang tertinggal wajib di qadha'.adapun jika sesudah ini kemudian keluar darah.maka darah itu darah haid bukan darah nifas. Jadi dalam kasus ini wanita tidak bernifas sama sekali.
HAL HAL YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN SELAMA MASA NIFAS
Hal hal yang dilarang dalam nifas adalah sama dengan larangan perempuan yang sedang haid. Yaitu shalat, puasa, masuk masjid, membaca Al quran thawaf dan bersetubuh.

SUMBER: FIQIH WANITA KH SYAFI'I ABDULLAH

Thursday, July 16, 2015

CARA RASULULLAH MENGUSIR JIN

Cara Rasulullah mengusir jin
Sunnah Rasulullah sudah jelas tuntunan rasulullah untuk mengusir jin dan menghadapi rumah angker dengan cara:

“Langkah pertama : lakukan bentakan ancaman kepada si jin
Mathr Ibnu Abdurrahman al-A’naq berkata: telah berkata pada saya Ummu Aban binti al-Wazi’ ibnu Zari ibnu ‘Amir al –‘Abdi dari bapaknya bahwa kakeknya yang bernama az-Zari’ datang kepada Rasulullah Muhammad SAW bersama seorang anaknya yang mengidap penyakit “gila”. Kakek saya berkata: ketika kami sudah sampau pada Rasulullah Muhammad SAW di kota madinag, maka saya berkata, “wahahi Rasulullah, sesungguhnya saya membawa seorang anak saya yang berpenyakit gila, maka saya sengaja datang kepada Engkau dan meminta agar Engkau berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya,” Rasulullah Muhammad SAW berkata, “bawalah anak itu kemari” kemudian saya mengambilnya pada kendaraan dan melepaskan tali pengikatnya, lalu saya lepaskan pakaian perjalanannya, dan memakaikan padanya sepasang yang indah, saya membawanya kepada Rasulullah Muhammad SAW sehingga ketika saya sudah sampaiu dihadapannya, beliau berkata, “dekatkanlah ia kepada saya dan letakkan punggungnya dihadapan saya,” lalu ia memegang ujung dan pangkal kainnya dan memukul punggung anak itu sehingga kelihatan putih ketiaknya, sedangkan beliau berkata, “keluarlah wahai musuh Allah! Keluarlah musuh Allah!” Lalu anak tersebut kembali dapat melihat secara normal, tidak seperti pandangan yang biasanya. Rasulullah muhammad sawmendudukkan anaknya dihadapannya. Beliau berdoa untuknya dan mengusap mukanya (HR. At Thabrani)
(lihat juga pada majma’ az – Zawa, id 9:3)

langkah kedua: bacakan secara keras supaya terdengar orang itu atau dibisikkan ditelinga orang itu.
Ubai ibnu Ka’ab: pada suatu waktu, aku pernah bersama rasulullah, lalu datanglah seorang arab…, maka ia berkata “wahai Nabi Allah, sesungguhnya saya menpunyai seorang saudara yang berpenyakit,” Rasulullah Muhammad SAW bertanya, “apakah penyakitnya?” ia menjawab, “penyakit gila,” Rasulullah Muhammad SAW berkata “bawalah dia kepada saya.” Kemudian orang sakit itu didatangkan kehadapan Rasulullah Muhammad SAW, maka Nabi Muhammad SAW membaca doia perlindungan dengan surah al-fatihah dan empat ayat pertama dari surah al-Baqarah, ayat 163 dan 164 dari surah al-Baqarah, satu ayat 18 dari surat Ali ‘Imran, satu ayat 54 dari surat al-A’raf, satu ayat 116 dari surat al-Mukminin, satu ayat 3 dari surat al Jin, ayat 1 – 10 dari surah ash Shaffat, ayat 1 n- 3 surah al – Mu’min, ayat 29 – 32 al Ahqaaf, ayat 33 – 35 surah Ar Rahmaan, ayat 51 – 52 surah al Qalam, surah al Iklash, Surah al Falaq dan surah Annas. Kemudian laki – laki yang sakit itu berdiri seakaqn – akan ia tidak pernah ragu dengan dirinya (HR Ibnu Hiban)

Langkah ketiga: setelah pasien sadar sarankan secara rutin sebelum tidur melakukan sunnah sebagai berikut:
Berwudhulah sebelum tidur, baca surat al Iklash, al Falaq dan An-Nas. Lalu tiupkan kedua telapak tangan. Kemudian usapkan ke sekujur tubuh. Setelah itu bacalah ayat kursi. (HR Bukhari dari Abu Hyrairah)
Pengobatan gangguan jin pada rumah
Rasulullah muhammad bersabda, “sesungguhnya setiap rumah itu ada penghuninya (maksudnya jin; jika kalian melihat sesuatu daripadanya, maka berilah kesempatan baginya selama tiga hari, jika sudah lewat dari tiga hari dan ia belum pergi juga, maka bunuhlah dia, sebab itu adalah setan.” (HR. MUSLIM

Langkah pengusiran:
Rasulullah muhammad bersabda “bacakanlah surah al Baqarah di dalam rumahmu, karena sesungguhnya setan tidak akan masuk rumah yang dibacakan padanya surah al Baqarah.” (HR al Hakim dari ‘Abdullah Ibnu Mas’ud)
Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “sesungguhnya Allah SWT telah menuliskan sebuah kitab pada 2000 tahun sebelum diciptakanNya langit dan bumi ini; diantara isi kitab tersebut adalah dia ayat terakhir surah al baqarah, yang bila dibacakan pada sebuah ruimah selama tiga malam melainkan rumah tersebut tidak akan didekati oleh syetan” (HR Abu Hurairah). Semoga bermanfaat. Bagikan ke sahabatmu.

Wednesday, July 15, 2015

SEJARAH SHALAT 'IEDUL FITRI DAN 'IEDUL ADHAH

Jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Jahiliyah Arab ternyata sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan. Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta pora. Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman memabukkan.
‘’Nairuz dan Mahrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno?’’ tulis Ensiklopedi Islam.  Setelah turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada 2 Hijriyah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.’’
Setiap kaum memang memiliki hari raya masing-masing. Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, mengutip sebuah hadis dari Abdullah bin Amar, ‘’Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ’’Puasanya Nuh adalah satu tahun penuh, kecuali hari Idul Fitri dan Idul Adha’.’’ (HR Ibnu Majah).
Jika merujuk pada hadis di atas, maka umat Nabi Nuh AS pun memiliki hari raya. Sayangnya, kata Ibnu Katsir, hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah itu sanadnya dhaif.  Rasulullah SAW membenarkan bahwa setiap kaum memiliki hari raya. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari,  pernah memarahi dua wanita Anshar memukul rebana sambil bernyanyi-nyanyi.
‘’Pantaskah ada seruling setan di rumah, ya Rasulullah SAW?’’ cetus Abu Bakar.
   
‘’Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar! Karena tiap-tiap kaum mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita,’’ sabda Rasulullah SAW.
Hari Raya Idul Fitri untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam, selepas Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijiriyah. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin harus berhadapan dengan 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy.
Pada tahun itu, Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan kaum kafir dalam Perang Badar dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa. Menurut sebuah riwayat, Nabi SAW dan para sahabat menunaikan shalat Id pertama dengan kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badar.
Rasulullah SAW pun dalam sebuah riwayat disebutkan, merayakan Hari Raya Idul Fitri pertama dalam kondisi letih. Sampai-sampai Nabi SAW bersandar pada Bilal RA dan menyampaikan khutbahnya.
Menurut Hafizh Ibnu Katsir, pada Hari Raya Idul Fitri yang pertama, Rasulullah SAW pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan menunaikan shalat Id di atas lapang itu. Sejak itulah, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunaikan shalat Id di lapangan terbuka.
    Sebelum datangnya  Hari Raya Idul Fitri, umat Islam diwajibkan menunaikan zakat fitrah. Tepat pada 1 Syawal, kaum Muslim disunahkan melaksanakan shalat Id, baik di lapangan terbuka maupun di masjid, sebanyak dua rakaat dan kemudian dilanjutkan dengan khutbah.
    Hingga kini, Idul Fitri telah dilakukan kaum Muslimin sebanyak lebih dari 1.432 kali.  Di setiap wilayah atau daerah, umat Islam memiliki tradisi masing-masing untuk merayakan dan  mengisi hari raya itu.  Bahkan, di setiap daerah dan Negara, umat Islam memiliki istilah sendiri untuk menyebut Idul Fitri.
Sejatinya, menurut Prof HM Baharun, hakikat Idul Fitri adalah perayaan kemenangan iman dan ilmu atas nafsu di medan jihad Ramadhan. Setelah berhasill menundukkan nafsu,  kaum Muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan dapat "kembali ke fitrah" (Idul Fitri), yakni kembali ke asal kejadian. Semoga. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H.